Jumat, 18 Januari 2013

Seimbang

    

     Optimalisai trinitas manusia (akal,hati,nafsu) yang tidak sinergis hanya akan melemahkan potensi yang lainnya,dan ketidak sadaran akan kepincangan ini hanya akan melahirkan kesombongan dan kesesatan secara psikologis/ideologis. Ada banyak  keadaan yang terlewatkan/tak terpecahkan dan itu adalah kondisi yang tidak kita sadari bahwa ada potensi yang  tidak kita gunakan dengan baik,tapi sayangnya kesadaran akan kepincangan ini selalu membutuhkan kondisi. Salah satunya adalah ber "tuhan", ber "tuhan" itu mutlak bukan karena surga atau neraka,tapi kebutuhan setiap jiwa yang sadar akan seluruh potensi yang di milikinya.


     Siapa tuhanmu? Dia adalah yang hadir ketika keadaan tak mampu kita jangkau,Dewa Matahari,Dewa Api atau setan sekalipun dan apapun/siapapun yang kita anggap cukup tangguh dan layak untuk kita genggam ketika seluruh kekuatan tak mampu menyelesaikannya,atau bisa membuat kita tenang/damai ketika meyakininya,maka dia adalah Tuhanmu.

  Tidak butuh pilihan,karena hanya akan berujung pada hal yang sama saja,karena bertuhan adalah kebutuhan,”meyakini “ atau tidak ujungnya sama saja ,jika masih penasaran jawabannya adalah “mencari”,bukan “memilih”. Carilah Tuhan sejati,dan sesungguhnya ini bukan masalah menang atau kalah,kuat atau lemah,tapi sesuatu yang lebih indah diyakini untuk dijadikan pedoman hidup sebagai pengisi kekosongan dan kebutuhan jiwa kita agar trinitas yang kita miliki menjadi seimbang.

      Tendensi bertuhan akan menciptakan ketulusan dalam menjalankan hidup baik secara vertical atau horizontal,karena apapun yang kita lakukan adalah bentuk syukur atau tanda terimaksih atas apa yang telah di berikan tuhan terhadap kita,dan wujud sukur sesungguhnya adalah mengoptimalkan potensi yang kita miliki secara sinergis,dan tanpa pamrih. Inilah hakikat sesungguhnya,berperang bukan untuk menang tapi kewajiban menegakkan kebenaran,bekerja keras bukan untuk mendapatkan banyak uang tapi tanggung jawab atas seluruh potensi yang diberikan tuhan,jika pilihannya diam maka sama saja dengan mati,atau “bangkai”hidup tanpa nilai/manfaat.

      Maka tidak ada tuntutan untuk menjadi siapapun,hanya menjadi diri sendiri dan menjalankan kewajiban “hidup”. Lebih dari sekedar ucapan “terimakasih” atau pujian, tapi sekedar menggunakan hidup seperti seharusnya saja. Karena inilah yang membedakan besar kecilnya nilai hidup seseorang,bukan sehebat apa kita menguasai ilmu atau sepandai apa kita mendefinisikan sesuatu,tapi setepat apa kita mampu “besikap” menghadapi keadaan,dan sikap = perbuatan=perilaku.

      Sangat mendasar jika kemudian Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak,karena inilah satu satunya jawaban yang tidak konfrontatif tapi sangat solutif, Ketika manusia memiliki sikap seperti seharusnya,maka kultur  yang akan membentuk keseimbangan dengan sendirinya,bukan forum diskusi,menggali ilmu pengetahuan atau tuntutan untuk menyeragamkan manusia,untuk menjadi pintar dll. Tapi sikap manusia yang tepat akan membentuk kultur dan mengantarkan siapapun untuk melakukan kebenaran tanpa harus dipaksa faham,atau dipaksa meyakini sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar