Cukup empat hal saja untuk meyakinkan keterjajahan kita sebagai warga negara.
Pertama,
minyak. Kita punya minyak, tapi (anehnya) uang yang kita keluarkan
untuk membeli komoditi itu harus sama (atau bahkan lebih mahal) dengan
jumlah uang yang dikeluarkan oleh warga negara lain yang tidak punya
sumberdaya alam.
Kedua, industri pesawat. Dari Habibie
hingga Rahardi Ramelan, semua mengaku, PTDI dibikin gembos. Pencabutan
subsidi terhadap PTDI adalah desakan dari IMF, Bank Dunia, amrik, dan
sebangsanya. Alasannya jelas, agar Indonesia tidak bisa saingi amrik dan
sekutunya.
Ketiga, keserampangan polisi dalam beraksi.
Orang yang berstatus terduga teroris (tentu saja beragama Islam dan
harus beragama Islam), bisa langsung ditembak-mati tanpa persidangan.
Sebaliknya, orang yang sudah santer terkait tipikor tidak pernah jadi
tersangka, bahkan diselidiki pun tidak! Karenanya, kecurigaan bahwa
kinerja polisi merupakan "pesanan asing" dan proyek, sangat sulit
dibantah.
Keempat, pembukaan kran impor selebar-lebarnya,
ditandai penghapusan pajak impor secara bertahap hingga mendekati 0%,
yang berbanding terbalik dengan lika-liku kesulitan ekspor produk
domestik, adalah pembunuhan ekonomi rakyat secara perlahan. Dalam skala
10 komoditi, kita menjual 1, tapi membeli 9. Ini yang mereka samarkan
dengan istilah pasar bebas. Ibarat anak SMA yang "bertransaksi" dengan anak SD, kecurangan dan ketidakseimbangan adalah dua hal yang patut dicurigai ada.
-Odoy Sundanagara-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar