Rabu, 02 Januari 2013

Membuka Mata via Logika Sederhana

Cukup empat hal saja untuk meyakinkan keterjajahan kita sebagai warga negara.

Pertama, minyak. Kita punya minyak, tapi (anehnya) uang yang kita keluarkan untuk membeli komoditi itu harus sama (atau bahkan lebih mahal) dengan jumlah uang yang dikeluarkan oleh warga negara lain yang tidak punya sumberdaya alam.

Kedua, industri pesawat. Dari Habibie hingga Rahardi Ramelan, semua mengaku, PTDI dibikin gembos. Pencabutan subsidi terhadap PTDI adalah desakan dari IMF, Bank Dunia, amrik, dan sebangsanya. Alasannya jelas, agar Indonesia tidak bisa saingi amrik dan sekutunya.

Ketiga, keserampangan polisi dalam beraksi. Orang yang berstatus terduga teroris (tentu saja beragama Islam dan harus beragama Islam), bisa langsung ditembak-mati tanpa persidangan. Sebaliknya, orang yang sudah santer terkait tipikor tidak pernah jadi tersangka, bahkan diselidiki pun tidak! Karenanya, kecurigaan bahwa kinerja polisi merupakan "pesanan asing" dan proyek, sangat sulit dibantah.

Keempat, pembukaan kran impor selebar-lebarnya, ditandai penghapusan pajak impor secara bertahap hingga mendekati 0%, yang berbanding terbalik dengan lika-liku kesulitan ekspor produk domestik, adalah pembunuhan ekonomi rakyat secara perlahan. Dalam skala 10 komoditi, kita menjual 1, tapi membeli 9. Ini yang mereka samarkan dengan istilah pasar bebas. Ibarat anak SMA yang "bertransaksi" dengan anak SD, kecurangan dan ketidakseimbangan adalah dua hal yang patut dicurigai ada.

-Odoy Sundanagara-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar